Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Transisi Energi Hanya akan Dinikmati Importir?

Transisi Energi Hanya akan Dinikmati Importir?

ListrikIndonesia| Ada kegalauan dari para praktisi energi baru terbarukan (EBT) dalam upaya menciptakan net zero emission di tahun 2060. Keresahan itu berasal dari masih adanya ego sektoral dalam mendukung penggunaan energi bersih. 

Menurut Ketua Dewan Pakar AESI (Asosiasi Energi Surya Indonesia) Arya Rezavidi, yang juga Perekayasa Utama Bidang Energi di BRIN, jika Indonesia ingin membangun industri EBT, dibutuhkan market yang sustain. Sebab katanya membangun industri energi surya dengan kapasitas 300 megawatt peak per tahun dibutuhkan waktu sekitar lima hingga enam tahun untuk break even point (BEP).

Diakuinya bahwa industri EBT di Indonesia belum tumbuh, terutama EBT yang menyangkut energi surya. Katanya saat ini Indonesia baru pada tahap pabrikasi modul dan perakitan. Sementara untuk sel surya atau sel fotovoltaik-nya masih impor, padahal komponen utama modul surya adalah sel suryanya itu sendiri.

“Pabrikan modul surya yang ada di Indonesia saat ini, membeli sel surya impor secara eceran, akibatnya harganya menjadi mahal. Tapi kalau industri sel surya dibangun di Indonesia, mereka bisa membeli semuanya dari satu industri, maka harganya akan bisa ditekan,” jelas Arya kepada listrikindonesia.com. Bahkan katanya, itu bisa mempercepat BEP dan setelah lima tahun maka sel surya akan mencapai harga keekonomiannya.

“Untuk itulah kami meminta agar RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) khusus untuk pemanfaatan PLTS perlu direvisi. Sebab jika pasarnya tidak stabil, industri sel surya jadi tidak menarik untuk investor,” terang Arya.

Menurutnya, dalam RUPTL yang baru memang ada target pemasangan PLTS mencapai sekitar 4 GW sampai dengan tahun 2030, tetapi kalau dilihat secara rinci, target tahunannya tidak merata sepanjang tahun. Ada masa di mana targetnya cukup besar sampai mendekati 2 GW per tahun tapi selanjutnya kecil-kecil. “Kalau seperti ini tidak akan ada industri lokal yang akan tumbuh dan malah pada tahun-tahun dimana target cukup besar akan terjadi impor besar-besaran,” jelasnya.

Dengan tegas Arya mengungkapkan tentang pentingnya membangun industri atau pabrikan sel surya di dalam negeri. “Kalau tidak, nanti yang namanya transisi energi ini hanya akan dinikmati para importir saja” tandasnya.

Menyoal banyaknya tantangan dan hambatan untuk menggunakan PLTS secara masif di Indonesia, menurut Arya persoalan teknis lain yang dihadapi PLN dari PLTS itu adalah masalah intermittency. Itu karena sumber daya PLTS itu berasal dari alam (sinar matahari), yang tidak dapat diatur keberadaan maupun intensitasnya. Intermittency ini bila tidak ditangani secara tepat, akan menyebabkan terganggunya frekwensi jala-jala listrik PLN.  

Menyangkut hal tersebut, AESI kata Arya sudah melakukan studi untuk mengatasi masalah intermitensi yang dapat menganggu jaringan PLN di JAMALI (Jawa Madura Bali). Pada studi ini AESI menempatkan 100 buah pyranometer untuk mengukur radiasi surya di beberapa titik di sepanjang jaringan JAMALI, untuk mensimulasikan PLTS. Dari hasil studi ini, ternyata jika kapasitas PLTS ini disebarkan secara merata di seluruh jaringan JAMALI, gangguan terhadap frekuensinya dapat diminimalisir sehingga tidak sampai keluar dari batas toleransi frekuensi yang diperbolehkan dalam standar PLN. Ini disebabkan PLTS itu ditempatkan di sebuah jaringan interkoneksi.


“Pengaruhnya terhadap frekuensi sangat minimal sekali, karena fluktuasi dan intermitensi intensitas matahari dari PLTS tersebut saling mengkompensasi di sepanjang jaringan, sehingga itu sama sekali tidak akan menganggu jaringan. Meski radiasi matahari tertutup oleh pergerakan awan di satu titik, tapi di titik lain tidak tertutup. Jadi itu kira-kira hipotesanya,” ucapnya.

Arya memiliki keyakinan bahwa secara teknis persoalan itu bisa diatasi dengan teknologi. Apalagi di masa mendatang, dengan penggunaan control smart grid dan teknologi energy storage semua persoalan alam ini akan dapat diatasi dengan mudah. “Jadi apa pun juga yang namanya alam itu yang kita tidak bisa ubah dan tidak bisa kita atur, tapi dengan teknologi bisa kita atasi. Persoalan-persoalan yang selama ini dianggap sebagai persoalan alam justru menjadi tantangan bagi para ilmuwan untuk mengatasinya. Dari studi AESI ini kita berikan masukan ke PLN,” tandasnya.

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button