Power Plant MEGA PROJECT NEWS
Trending

Target COD PLTU Nagan Raya Unit 3 & Unit 4 Disesuaikan Akibat Covid-19

Target COD PLTU Nagan Raya Unit 3 & Unit 4 Disesuaikan Akibat Covid-19
Wiluyo Kusdwiharto, Direktur Regional Sumatra dan Kalimantan PT PLN (Persero)

Listrik Indonesia PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan menyesuaikan target pengoperasian (commercial operate date/COD) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Nagan Raya Unit 3 & 4 masing-masing berkapasitas 300 megawatt (MW) karena terjadi penurunan permintaan (demand) di wilayah Sumatera BagIAN Utara, terutama Provinsi Aceh.

Direktur Regional Sumatra dan Kalimantan PT PLN (Persero) Wiluyo Kusdwiharto mengatakan berdasarkan rencana awal, kedua PLTU mulut tambang itu akan diselesaikan sesuai dengan target awal. Namun, terjadi penurunan demand listrik di sistem kelistrikan Sumatra karena dampak pandemi Covid-19.

“Jadi, ini [PLTU Nagan Raya] awalnya sesuai dengan target, tetapi dengan Covid-19, ini menyebabkan demand [listrik] turun di Sumatra. Kami evaluasi, jangan sampai nanti PLTU Nagan Raya Unit 3&4 beroperasi, kami malah terkenda denda,” ujarnya saat Webinar Cak Ham dengan tema “Kelistrikan Aceh”, Minggu (9/2020).

PLTU MT Meulaboh (Nagan Raya) #3 200 MW merupakan pembangkit listrik dari pengembang swasta (independent power producer/IPP) yang konstruksi dimulai 22 Desember 2018. PLTU Nagan Raya Unit 3 ditargetkan beroperasi pada 2021.

Sementara itu, PLTU MT Meulaboh (Nagan Raya) #4 MT berkapasitas 200 MW memulai konstruksi pada 22 Desember 2018 dan ditargetkan COD pada 2022. Kedua unit PLTU itu akan menambah kapasitas listrik di Aceh sebesar 400 MW.

“Covid-19 menyebabkan banyak industri yang berhenti, merumahkan karyawan, menunda produksi. Demand listrik [wilayah Sumatera] turun 7%—15%, sekitar 300-700 MW. Kami evaluasi lagi supply dan demand listrik, kalau demand naik, ya kita naikkan [kapasitas listrik]. Kalau demand turun, sedangkan suplai dinaikkan, kami [PLN] akan tekor,” ujarnya.

Saat ini, daya mampu listrik di Provinsi Aceh mencapai 639 MW, sedangkan beban puncak hanya 407 MW, sehingga surplus mencapai 57% jauh di atas batas minimal 30%. Sistem kelistrikan dikatakan andal jika memiliki cadangan listrik (reserve margin) minimal 30%. Artinya, kapasitas atau suplai listrik di Provinsi Aceh sudah lebih dari cukup. (Zuchri)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button