NEWS PROFILE
Trending

Sekjen DEN Ungkap Ketahanan Energi Nasional

Sekjen DEN Ungkap Ketahanan Energi Nasional

Listrik Indonesia | Sekretaris Jenderal DEN Djoko Siswanto mengungkapkan perkembangan ketahanan energi nasional dari tahun ke tahun.

Djoko Siswanto atau yang lebih akrab disapa Djoksis menyampaikan bahwa berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, yang dimaksud dengan ketahanan energi adalah suatu kondisi terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi pada harga yang terjangkau dalam jangka panjang dengan tetap memerhatikan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

“Kami telah melakukan penilaian terhadap ketahanan energi dengan menggunakan aspek 4A (Availability, Affordability, Accessibility, dan Acceptability) dan metode pembobotan menggunakan AHP (Analisa Hirarchi Process). Sejak dilakukan penilaian mulai dari tahun 2004 sampai dengan 2020, skala nilai ketahanan energi Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun,” ungkap Djoksis dalam program "Green Talk" Berita Satu belum lama ini.

Lebih lanjyt, ia menjelaskan, Indikator dan parameter aspek 4A, yaitu aspek Availability adalah ketersediaan sumber energi dan energi baik dari domestik maupun luar negeri. Aspek Affordability adalah keterjangkauan biaya investasi energi, mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, hingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energi.

Aspek Accesibility adalah kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur jaringan energi, termasuk tantangan geografik dan geopolitik. Aspek Acceptability adalah penggunaan energi yang peduli lingkungan (darat, laut dan udara) termasuk penerimaan masyarakat.

Djoksis mengatakan bahwa krisis energi di dunia tidak berdampak buruk bagi Indonesia. Krisis energi yang terjadi secara global seperti di Inggris, China, dan India diakibatkan oleh ketergantungan yang tinggi pada penggunaan bahan bakar fosil (gas dan batubara).

Indonesia bahkan memperoleh keuntungan dari krisis energi global yang terjadi. Peluang meningkatkan pendapatan negara melalui peningkatan ekspor batubara, ketersediaan batubara, gas yang cukup serta listrik yang melimpah terutama di Pulau Jawa dapat menjadi peluang untuk menarik investasi asing, dan peluang untuk mempercepat pengalihan energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) yang potensinya melimpah. Itulah beberapa dampak positif krisis energi di dunia bagi Indonesia.

Ia juga berharap upaya-upaya pemerintah dalam melaksanakan ketahanan energi serta target-target yang sudah ditetapkan dapat tercapai, salah satunya adalah bauran EBT sebesar 23 persen pada tahun 2025.

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button