Business CORPORATION Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

PLN Pensiunkan PLTU 'Polutif' Bertahap

PLN Pensiunkan PLTU 'Polutif' Bertahap
PLTU berbasis batu bara yang memicu polusi [Foto: rri.co.id - LISTRIK INDONESIA]

Listrik Indonesia - Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan perusahaan setrum milik negara ini secara simultan mengurangi konsumsi batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Selanjutnya, jumlah PLTU nantinya semakin berkurang alias satu demi satu dipensiunkan. Pada saatnya suplai listrik berasal dari pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT), yang ramah lingkungan. 

Pembangkit listrik berbasis EBT, antara lain pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). 

BACA JUGA: Polusi Udara Sebabkan 6,5 Juta Meninggal, Menhub: Harus Mulai Beralih Ke BBM Ramah Lingkungan

PLN tidak melakukan langkah ekstrem langsung mengistirahatkan PLTU-nya. Melainkan melakukan co-firing sebagai langkah transisi.

Co-firing adalah proses menambahkan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau campuran batu bara di PLTU.

"Kami petakan bagaimana transisi ke low carbon lewat co-firing. Kami coba 10 pembangkit menggunakan biomassa, pakai cangkang tandan," ujar Darmawan dalam CNBC Indonesia Energy Conference: Membedah Urgensi RUU Energi Baru dan Terbarukan, Senin (26/04/2021).

BACA JUGA: Bagaimana Kondisi PLTU di Indonesia?

Diungkapkan, pada operasional PLTU kini dikembangkan penerapan teknologi ultra supercritical yang efisien dengan emisi karbon yang sangat rendah daripada subcritical --jenis polutif yang selama ini dioperasikan.

Darmawan menyebutkan Jepang saja, misalnya, berencana memensiunkan PLTU subcritical-nya mulai 2030. Indonesia juga demikian. Tidak segera dalam waktu dekat.

"Tahap pertama pada 2030, PLTU subcritical dipensiunkan. Pada 2035 tahap kedua. Lalu pada  2040, tahap critical mulai dipensiunkan. Nanti pada 2050, hanya punya (PLTU) ultra supercritical, itupun jumlah tinggal sedikit," kata Darmawan.

Ditambahkan, transisi energi memang dilakukan secara bertahap. PLTU, dalam hal ini, tidak langsung diistiraharkan secarra bersamaan. "Transisi gradual, bukan all of shutdown," tanda Darmawan lagi.

BACA JUGA: PLN Targetkan Co-Firing 52 PLTU Hingga 2024

Kondisi kelistrikan PLN saat ini, menurut Wakil Direktur Utama PLN, terjadi kelebihan pasokan daya di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Kondisi sebaliknya terjadi di sebagian besar Indonesia bagian timur dan daerah-daerah terpencil di berbagai pelosok Indonesia.

Daerah pelosok dimaksud umumnya mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Pembangkit ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) fosil yang beroperasi 9-12 jam sehari.

"Jadi, kita harus perhatikan bagaimana transisi energi berjalan smooth, keseimbangan pasokan, dan demand dan kekuatannya," ujar Darmawan. (RE)


 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button