Fossil Fuel ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Pengelolaan Limbah Batu Bara Masih Serampangan

Pengelolaan Limbah Batu Bara Masih Serampangan
Limbah batu bara berupa berupa abu fly ash dan bottom ash (FABA) ini dibuang begitu saja tanpa adanya penanganan khusus. (foto: net)
Listrik Indonesia | Kanopi Hijau Indonesia mengungkapkan, pengelolaan Limbah Batu Bara di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih serampangan. Limbah berupa abu fly ash dan bottom ash (FABA) ini dibuang begitu saja tanpa adanya penanganan khusus.

"Pada PLTU Keban Agung Lahat, kami menemukan fakta adanya pembuangan FABA secara sembarangan di lubang tambang, ditimbun untuk jalan, ditumpuk di sekitar PLTU," ujar juru kampanye energi Kanopi Hijau Indonesia, Olan Sahayu dalam keterangannya, Selasa (20/10).

Aktivis yang tergabung dalam Jejaring Sumatera Terang untuk Energi Bersih ini juga menemukan masalah serupa di Padang, Sumatera Barat. Di kota Ranah Minang itu berdiri PLTU batubara Ombilin, masyarakatnya, terutama di Desa Sijantang Koto selama satu tahun terakhir terus mengeluhkan abu PLTU yang berterbangan di langit desa mereka, penyebabnya karena filter abu PLTU rusak dan sampai saat ini belum diperbaiki.

Fakta di atas, kata Olan, adalah potret pengelolaan lingkungan yang serampangan. Padahal, menurutnya, dalam dokumen pandu RKL-RPL disebutkan cara untuk mengelola dan memantau dampak yang akan terjadi. 

“Dampak buruk terhadap lingkungan akan semakin buruk setelah UU Cipta Kerja disahkan. Banyak sekali pasal-pasal yang akan memperparah kerusakan lingkungan dan masyarakat yang akan dirugikan,” tutur dia. 

Akibat penggunaan batu bara ini, jelasnya, kerusakan lingkungan di Pulau Sumatera cukup masif. Hal ini dikarenakan adanya aktivitas pertambangan batubara, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), hingga pembukaan hutan untuk perkebunan. Dampak paling terasa adalah pencemaran udara, pencemaran sungai, pencemaran laut, pencemaran tanah sampai pada persoalan hilangnya mata pencarian masyarakat. 

"Kerusakan tersebut akibat model pengelolaan lingkungan yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya dan terus didiamkan oleh negara semakin memperburuk keadaan. Semuanya sudah terjadi dan dialami oleh masyarakat, mulai dari Aceh sampai Lampung," jelasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, dampak PLTU batubara di Sumatera juga dianggap merusak mata pencarian masyarakat di sekitar, misalnya PLTU batubara Pangkalan Susu di Sumatera Utara, PLTU batubara Keban Agung di Lahat, PLTU batu bara Tenayan Raya di Pekan Baru yang ternyata merugikan petani padi, penambak ikan, hingga tangkapan nelayan terus menurun. 

“Setelah PLTU itu beroperasi, masyarakat di sekitar PLTU itu terus mengeluhkan mata pencarian mereka yang semakin terganggu,” imbuh Olan. (pin)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button