Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Pemerintah Kembangkan EBT Hingga 140 GW, PT BA Cepat Ambil Peran

Pemerintah Kembangkan EBT Hingga 140 GW, PT BA Cepat Ambil Peran
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Arviyan Arifin. (foto: net)
Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengakui, kapasitas sumber energi yang ada di tanah air saat ini baru mencapai 73 gigawatt (GW). Namun, kebutuhan energi pada 30 tahun mendatang diprediksi mencapai 440 GW. 

"Tahun 2025 mendatang, kita harus bisa membuat kapasitas energi hingga sebanyak 135 GW dan 23 persen energi dihasilkan dari EBT. Saat ini kalau dilihat total kapasitas sumber energi kita berada pada 73 gigawatt," kata Arifin dalam sebuah Webinar, Rabu (21/10).

Kapasitas energi sebanyak 73 GW ini berasal dari gas bumi sebesar 19,5 persen dan batubara sebesar 35 persen. Selain itu, energi dari minyak bumi sebesar 34,4 persen dan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 10,8 persen.

"Jika EBT sudah bisa dikembangkan sejak dini, maka di tahun 2050 kebutuhan EBT yang harus dihasilkan sebanyak 140 GW. Peran (EBT) ini akan ada di kisaran 31 persen atau 140 GW yang memanfaatkan EBT," katanya.

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Arviyan Arifin mengakui, pemanfaatan energi fosil akan semakin menurun pada tahun-tahun mendatang. Hal ini terjadi karena berbagai negara mulai beralih mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) sebagai alternatif sumber energi yang dianggap lebih ramah lingkungan.

"Sampai 2040 kita lihat kebutuhan energi dunia ini mengalami perlambatan yang cukup besar, hanya tumbuh 0,3 persen," kata Arviyan 

Dia menjelaskan, penggunaan fosil sebagai sumber energi banyak digunakan negara-negara berkembang seperti Indonesia dan beberapa negara maju lainnya. Namun, tren penggunaan fosil sebagai sumber energi mulai ditinggalkan negara maju seperti Amerika Serikat dan China.

"Tren ini, mau tidak mau harus juga diikuti Indonesia karena adanya sejumlah komitmen dengan negara-negara maju. Tantangan ini harus dihadapi, Bagaimana memenuhi kebutuhan dan bagaimana baurannya dengan Paris Agreement dan lain-lain," kata dia. (pin)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button