Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Jokowi: Transformasi Menuju Energi Baru & Terbarukan

Jokowi: Transformasi Menuju Energi Baru & Terbarukan

Listrik Indonesia | Dalam Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI, Senin (16/8), Presiden Joko Widodo menekankan transformasi menuju energi baru dan terbarukan yang akan menjadi perubahan penting dalam perekonomian Indonesia.

"Transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau, akan menjadi perubahan penting dalam perekonomian kita," ujar Jokowi yang mengenaikan pakaian adat Suku Baduy.

Menurutnya, konsolidasi kekuatan riset nasional terus diupayakan, agar sejalan dengan agenda pembangunan nasional. Sinergi dunia pendidikan dengan industri dan pengembangan kewirausahaan terus dipercepat melalui Program Merdeka Belajar. “Hal ini diharapkan mengakselerasi kualitas SDM nasional, dan sekaligus meningkatkan daya saing industri dan produk dalam.”

Kebijakan Energi Nasional (KEN) menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025. Berdasarkan data Kementerian ESDM, saat ini bauran energi terbarukan di sektor pembangkit listrik sudah mencapai kisaran 14%, sedangkan buaran energi secara keseluruhan 11,2%.

Saat ini, perubahan iklim menjadi agenda politik paling utama di kancah global. Ketika para pemegang saham dan investor mulai menekan perusahaan untuk memperhatikan energi bersih. Beberapa lembaga pembiayaan dan perbankan kini mulai menghentikan dukungan terhadap proyek energi fosil dan mengarahkan ke investasi energi baru dan terbarukan untuk mengatasi perubahan iklim.

Bank Investasi Eropa misalnya mendeklarasikan diri untuk berhenti dalam pembiayaan investasi energi fosil. Demikian juga dengan perusahaan migas asal Inggris, BP yang berkomitmen untuk meningkatkan porsi energi bersih dalam jangka panjang.

Jadi, perubahan iklim menjadi salah satu pertimbangan lembaga pembiayaan dalam mendanai investasi. Oleh karena itu, banyak perusahaan mulai memasukkan portofolio mereka ke dalam energi bersih, setidaknya upaya mereka memberikan dukungan dalam investasi atau infrastruktur energi ramah lingkungan.

Jika dalam pendekatan penindakan korupsi mengikuti teori “follow the money”, artinya ikuti dahulu aliran uang hasil korupsi, kemudian follow the suspect, kejar pelakunya, di dunia energi bersih juga seharusnya hampir sama. Arahkan lembaga keuangan dan pembiayaan untuk mendukung pengembangan energi bersih seperti mebuat bentuk atau pelayanan keuangan misalnya green bond, dan lainnya dengan berbagai kelebihan dan insentif. Atau sebaliknya, persulit pendanaan untuk investasi energi fosil.

Setidaknya hal itu akan memaksa sekaligus menjadi insentif bagi investor untuk lebih giat masuk ke dalam energi baru dan terbarukan. Tidak hanya Indonesia, dunia pun menghadapi persoalan yang sama, yaitu berbagai tantangan dalam mengembangkan energi bersih. Persoalan klasiknya adalah teknologi mahal sehingga nilai investasi menjadi lebih tinggi dibandingkan energi fosil. Hal ini berdampak pada harga energi bersih yang lebih mahal dibandingkan dengan fosil.

Kemungkinan besar terpilihnya calon presiden Amerika Serkat dari Partai Demokrat Joe Biden memberikan secercah harapan dalam pengembangan energi hijau. Cukup berbeda jauh dengan Donald Trump yang justru menarik diri dari Perjanjian Paris.

Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (IRENA), komposisi energi baru dan terbarukan terbesar di dunia hingga 2019 ditempati hidro/air atau pembangkit listrik tenaga surya air (PLTA), kemudian panel surya dan tenaga angin. Sementara itu, pembangkit geothermal relatif masih kecil.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button