Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Ini Dia Peta Jalan Transisi Energi Menuju Nol Karbon

Ini Dia Peta Jalan Transisi Energi Menuju Nol Karbon

Listrik Indonesia | Dewan Energi Nasional (DEN) sebagai perumus kebijakan energi nasional telah menyiapkan skenario transisi energi menuju net zero emission/bebas emisi salah satunya dengan membuat peta jalannya.

Sektor energi merupakan salah satu penyumbang terjadinya perubahan iklim selain sektor kehutanan, lingkungan, dan transportasi. Kemudian hasil dari pertemuan COP 26 Glasgow yang berisikan bahwa Indonesia menargetkan untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 dengan catatan adanya dukungan dari internasional untuk pendanaan dan teknologi dan tidak mengganggu availaibility serta affordability.

Oleh karena itu, DEN mendorong skenario transisi energi menuju NZE 2060.  DEN juga telah melaksanakan sidang anggota untuk keenam kalinya pada 2021 dengan agenda antara lain peta jalan transisi energi menuju NZE 2060.

Sekretaris Jenderal DEN, Djoko Siswanto menyampaikan, bahwa Indonesia komitmen untuk Development National SDG 7 Roadmap to Achieve the 2030 Agenda for Sustainable and the Paris Agreement. Dalam Perencanaan Energi (National Expert SDG Tool for Energy Planning/NEXSTEP) yang memungkinkan pembuat kebijakan membuat keputusan kebijakan yang tepat untuk mendukung pencapaian target SDG7 serta target pengurangan emisi.

Hasil roadmap SDG7 menjadi masukan untuk revisi Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN),” ucap Pria yang akrab disapa Djoksis ini.

Beberapa program untuk mendukung perencanaan energi  antara lain mempercepat pemanfaatan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), meningkatkan penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, mengoptimalkan produksi BBN (biodiesel atau biohidrokarbon), dan mendorong pemanfaatan kompor listrik, “ sebutnya.

Ia menyampaikan pengembangan EBT di Indonesia pada 2020 baru 11,2%. Namun angka ini sudah cukup meningkat dibandingkan 2015 yang sebesar 4%. Sementara indeks ketahanan energi nasional berada di angka 6,57 atau masuk kondisi tahan (6 s/d 7,99).

Pengukuran ketahanan energi sendiri menggunakan aspek 4A (availability, affordability, accessibility, dan acceptability) dan metode pembobotan menggunakan AHP (analisa hierarchy process). Aspek availability adalah ketersediaan sumber energi dan energi baik dari domestik maupun luar negeri. Selanjutnya affordability yaitu keterjangkauan biaya investasi energi, mulai dari biaya eksplorasi, produksi dan distribusi, hingga keterjangkauan konsumen terhadap harga energi.

Kemudian aspek accesibility adalah kemampuan untuk mengakses sumber energi, infrastruktur jaringan energi, termasuk tantangan geografik dan geopolitik. Sedangkan aspek acceptability adalah penggunaan energi yang peduli lingkungan (darat, laut dan udara) termasuk penerimaan masyarakat.

Faktor yang menentukan proses dan keberhasilan transisi energi antara lain potensi sumber energi yang dimiliki, teknologi yang dimiliki dan dikuasai, kondisi penyediaan energi dan capaian bauran energi saat ini, kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat.

 


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button