Fossil Fuel ENERGY PRIMER NEWS
Trending

Industri Hulu Migas Indonesia Dinilai Masih Menarik

Industri Hulu Migas Indonesia Dinilai Masih Menarik
Listrik Indonesia | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai industri hulu minyak dan gas bumi Indonesia masih menjadi tempat yang menarik bagi investor. 

Kepala Subdirektorat Pengawasan Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Komar Hutasoit mengatakan, bahwa faktor harga minyak dunia masih menjadi salah satu hal yang menahan investor untuk masuk. Akan tetapi,  ketertarikan investor untuk masuk ke Indonesia sebetulnya masih ada.

“Kalau tertarik sudah ada yang tertarik untuk investasi di Indonesia,” katanya dalam  webinar beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut,  Komar menyampaikan, bahwa pemerintah masih harus menyeleksi calon-calon investor tersebut. Menurutnya, proses itu agar nantinya wilayah kerja yang ditawarkan bisa benar-benar digarap.

Di sektor migas, Presiden RI menginstruksikan harga gas industri untuk dapat mengikuti Per pres 40 Tahun 2016 yakni sebe sar US$ 6/MMBTU. Kepmen EDM No 89K/12/MEM/2020 kemudian diterbitkan untuk mengatur harga gas pada tujuh bidang industri yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Pembangkit Tenaga Listrik juga mendapatkan kebijakan penurunan harga pembelian gas melalui Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2020. 

Semetara itu, Menurut Anggawira Wakil Ketua Umum BPP Hipmi dan Komite Investasi BKPM RI dalam keterangan resminya mengatakan, Pengaturan harga ini diperlukan agar kapasitas produksi dapat terus dijaga, dan menciptakan multiplier effect dari sisi tenaga kerja, peningkatan kemampuan kontraktor KKS untuk berekspansi dan pertumbuhan industri yang dapat menarik investasi. 

Bagi Indonesia, minyak dan gas bumi merupakan sumber energi utama yang digunakan untuk ba han baku dan bahan bakar. Penerimaan negara dari sektor migas tak hanya berasal dari penerimaan langsung berupa lifting migas namun juga berasal dari Pajak Pertambahan Hasil Migas (PPh Migas) yang dibayarkan kontraktor KKS ke Ditjen Pajak Kementerian Keuangan. 

"Belum lagi serapan tenaga kerja dan peluang untuk terus melakukan penambahan nilai (added value) yang kian terbuka dengan kemajuan teknologi. Tak heran produksi migas nasional ditargetkan mampu menyentuh angka satu juta barel minyak dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada 2030," ujarnya.

 Lanjutnya, Saat ini produksi rata-rata per hari migas kita baru menyentuh di level 705 ribu barel minyak, dan 5,5 miliar kaki kubik gas bumi. Diperlukan terobosan dan lompatan yang jauh untuk dapat mendorong produksi migas kita sehingga mencapai target yang diinginkan. 

Guna menambah produksi minyak dan gas bumi, Indonesia terus menggenjot investasi pada proyek onstream dan proyek strategis nasional. Capaian proyek onstream pada tahun 2020 berhasil melebihi target yang ditetapkan yakni dengan 15 proyek tercapai dibanding target sebanyak 11 proyek. (Cr)

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button