Renewable Energy ENERGY PRIMER
Trending

Game Changer PLTS Atap di Tanah Air

Game Changer PLTS Atap di Tanah Air

Listrik Indonesia | Pemerintah menegaskan tidak akan menunda pemanfaatan energi surya karena potensinya sangat besar dan sampai saat ini baru dimanfaatkan 0,08% atau 150 MW dari potensi lebih dari 200.000 MW.

 

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, energi bersih sudah menjadi budaya global dan dunia bergerak cepat mengurangi energi fosil dan beralih ke energi yang ramah lingkungan.

 

“Tuntutan green product yang dihasilkan oleh green industry meningkat dan bahkan menjadi keharusan jika tidak ingin produknya dikenakan carbon border tax di tingkat global,” ujarnya, mengutip majalah Listrik Indonesia edisi 80.

 

Kementerian ESDM menargetkan kapasitas PLTS atap mencapai 3.600 MW pada 2025 dengan merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan PLTS Atap. Peraturan itu mendorong pemasangan PLTS atap oleh masyarakat menjdi Permen ESDM No. 26/2021.

 

Sejumlah stimulus bagi rakyat yang ingin memasang PLTS atap antara lain ketentuan ekspor listrik ke PT PLN (Persero) ditingkatkan dari 65% menjadi 100%, jangka waktu kelebihan listrik masyarakat di PLN diperpanjang dari 3 bulan menjadi 6 bulan, dan waktu permohonan PLTS atap dipersingkat menjadi 5-12 hari.

 

Dadan menuturkan, Kementerian ESDM telah mempertimbangkan semua aspek dalam revisi regulasi tersebut yang menjadi perhatian masyarakat dan PLN sebagai BUMN yang ditugaskan menyediakan listrik masyarakat secara seimbang.

 

Dadan menegaskan bahwa bisnis PLN tidak dirugikan akibat ekspor listrik dari masyarakat. PLTS atap hanya berpotensi mengurangi sedikit penerimaan PLN karena masyarakat bisa melistriki sendiri. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong permintaan listrik PLN seperti kawasan industri baru, smelter, kompor listrik, dan kendaraan listrik.

Pengembangan PLTS atap juga akan mengurangi biaya bahan bakar per unit kWh sebesar Rp7,42 kWh dengan total nilai gas yang dihemat Rp4,12 triliun per tahun.

 

“Kebijakan PLTS atap ini juga berpihak kepada masyarakat luas, karena mengoptimalkan penghematan tagihan listrik bulanan dengan kapasitas terpasang sesuai daya langganan.”

 

Dia menambahkan, PLTS atap tidak akan menyebabkan pelanggan berburu keuntungan bisnis. “Motif tersebut akan sulit terjadi karena kapasitas PLTS atap dibatasi paling tinggi 100% dari kapasitas listrik pelanggan, sehingga tidak ada unsur berburu keuntungan. Pemasangannya juga hanya bisa di atap, dinding, atau bagian lain dari bangunan dan tidak dibolehkan di lahan terbuka [ground mounted],” katanya.

 

Selain tidak berdampak ke cashflow PLN, PLTS atap juga tidak menambah beban subsidi listrik dan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik PLN. Hasil perhitungan Kementerian ESDM dengan ekspor PLTS atap sebesar 100 persen untuk menggantikan gas menunjukkan BPP naik Rp1,14/kWh (0,08 persen), subsidi naik Rp0,079 triliun (0,15 persen), dan kompensasi naik Rp0,24 triliun (1,04 persen) dibandingkan ekspor 65%.

 

Meskipun dalam perhitungan tersebut total subsidi pemerintah Rp 54,15 triliun, tetapi dibayar pemerintah hanya Rp 53,92 triliun. Hal ini akibat adanya pengurangan energi listrik yang dikonsumsi pelanggan PLTS atap, dengan nilai penghematan Rp 0,23 triliun.

 

PLTS atap tidak berdampak pada kestabilan sistem kelistrikan karena Kementerian ESDM akan memperhatikan kurva beban (duck curve) dan pola operasi yang dilakukan PLN. PLTS atap tidak semakin menyebabkan oversupply listrik dan mengakibatkan konsekuensi take or pay bagi PLN akibat potensi pasar listriknya berkurang.

 

“Apabila dibandingkan dengan perkiraan penjualan listrik PLN yang pada 2021 sekitar 261 TWh, maka potensi berkurangnya penjualan PLN hanya 0,1%.”

 

Dadan menegaskan bahwa revisi Permen ESDM No. 49/2021 sudah terbit pada pertengahan September 2021. “Itu dipublikasikan Kementerian Hukum dan HAM itu betul, tidak hoaks. Secara formal semua proses diikuti dan sudah terbit,” katanya.


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button