Trending

Dari Limbah Batubara, Menjadi Beton Ramah Lingkungan

Dari Limbah Batubara, Menjadi Beton Ramah Lingkungan
Sumber foto: ptba.co.id

Listrik Indonesia | Kabar gembira datang dari dunia sains telah ditemukan cara memanfaatkan limbah batubara menjadi produk yang bermanfaat bahkan ramah lingkungan. Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Hakko Industry Co., Ltd. memanfaatkan limbah batu bara sebagai bahan baku beton, yang memiliki kekuatan dan waktu pematangan lebih cepat dan ramah lingkungan dibandingkan beton konvensional.

Sebagaimana diketahui, batubara menjadi sumber utama pengadaan sumber energi listrik nasional yang murah dan efisien. Namun kekurangannya adalah menjadi salah satu sumber pencemaran dan limbah yang berbahaya bagi lingkungan.

Menurut Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiq Rochman, bangunan yang dibangun dengan beton ramah lingkungan, jika terjadi gempa akan memakan korban jiwa seperti beton pada umumnya, saat terjatuh atau menimpa manusia yang ada di bawahnya.

Tidak hanya itu, beton ini sangat cocok dengan wilayah Indonesia yang sering dilanda bencana alam, baik gempa bumi maupun tsunami. Indonesia termasuk dalam lingkungan ring of fire yang memiliki potensi bencana alam yang cukup tinggi. Indonesia memiliki sekitar 240 gunung berapi, 70 di antaranya masih aktif.

Beton sudah diaplikasikan untuk membangun beberapa infrastruktur di Jepang yang rawan gempa. “Di Jepang, beton biasa digunakan untuk infrastruktur beton pemecah gelombang, karena kekuatannya terjamin dan membangun taman karena beton tidak panas saat diinjak dengan telanjang kaki,” kata Nurul.

Deputi Bidang Ilmiah LIPI Bambang Subiyanto mengatakan, untuk membuat beton yang ramah lingkungan, bahan bakunya semuanya ada di Indonesia. “Dengan memanfaatkan limbah hasil produksi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (pembangkit listrik) di seluruh wilayah Indonesia. Artinya, itu menjadi semacam solusi konkret dalam penanganan limbah batubara yang tersedia dan bisa dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, dalam waktu dekat LIPI akan menjajaki peluang kerja sama dengan beberapa pembangkit listrik, seperti pembangkit listrik di Pacitan, Pangandaran, Sukabumi, dan produksi yang ada di daerah lain yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakunya. Saat ini PLTU Pacitan LIPI telah diundang untuk membuat pembangkit beton ramah lingkungan di lingkungan pabrik PLTU miliknya.

“Dalam sehari limbah bottom ash (bottom ash) menghabiskan limbah sebanyak 250 ton. Limbah fly ash (fly ash) 200-1000 ton per hari. Bayangkan limbah hasil pembakaran batu bara yang sebaliknya akan dibuang kemana saja kita manfaatkan, "ujarnya.

Direktur Riset dan Pengembangan Hakko Co Ltd Yoshihide Wada menjelaskan, proyek yang dilakukan JICA dan LIPI telah berjalan dalam memproduksi beton ramah lingkungan dari bahan baku asal Indonesia dengan menggunakan teknologi Hakko Industry Co. Ltd. “Kami berharap kegiatan ini dapat membantu sosialisasi produk ramah lingkungan kepada masyarakat Indonesia melalui pengenalan ciri-ciri produk yang diproduksi di Indonesia,” ujarnya.

Soal bahan baku dan proses pembuatannya, Karunia Mita Sekar Cahyani, Project Manager Nano Tech Innovation Indonesia (tenant LIPI) mengatakan dari namanya saja sudah jelas diketahui beton ramah lingkungan ini dibuat dari hasil pemanfaatan limbah batubara. dari produksi pembangkit listrik tenaga uap, yaitu bottom ash, kemudian semen, air tawar, zat adiktif (YHR) dan pewarna jika perlu. “Biasanya kalau kita pesan bottom ash, fly ash juga dikandung. Jadi, untuk kandungan airnya disesuaikan dengan kebutuhan,” ujarnya.

Untuk proses pembuatannya, dari total mix dibutuhkan 40-60 persen bottom ash, sedangkan 2-5 persen zat adiktif, dan komposisi airnya disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Biasanya, untuk menentukan komposisi airnya, kurang lebihnya, maka bahan campurannya sudah kita genggam pakai genggam. “Untuk 36 kg bottom ash dibutuhkan 1,5 sampai 10 liter air. Intinya tergantung kondisinya, belum ada standar,” ujarnya.

Untuk proses pembuatannya, semua material dicampur dengan truk pengaduk beton. Setelah dipastikan semua tercampur rata, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan sesuai ukuran dan bentuknya. “Tak lama setelah itu, beton bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia,” pungkas dia. (TS)


Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button