Renewable Energy ENERGY PRIMER NEWS
Trending

BKPM: PLTMH Tomata Masih Terkendala Jaringan Distribusi

BKPM: PLTMH Tomata Masih Terkendala Jaringan Distribusi
Listrik Indonesia |  Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Tomata di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah diperkirakan akan beroperasi secara komersial (commercial on date/COD) pada akhir tahun ini. 

Namun, sistem jaringan distribusi yang terpasang saat ini hanya menampung daya 2 megawatt (MW), sedangkan dengan beroperasinya pembangkit tenaga air itu, berkapasitas listrik yang akan dialirkan mencapai 10 MW.

Komite Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rizal Calvary Marimbo menemukan sistim jaringan distribusi PT PLN (Persero) yang membentang hingga ke Petasia hanya mampu menampung daya 2 MW.

“Jadi, kita temukan itu, sistem jaringan utamanya dari Kolaka dampai ke Petasia itu hanya menampung daya 2 MW. Kalau di PDAM itu, pipanya kekecilan. Padahal yang akan dikirim lewat kabel-kabel itu kan 10 MW sampai ke Petasia,” ucap Rizal, yang juga menjabat sebagai Komisaris PT PLN Batam, Kamis (10/9).

Rizal mengatakan, beberapa hari lalu dirinya telah mengunjungi PLTM Tomata di Tomata Morowali Utara, Sulawesi Tengah, didampingi CEO PT Buminata Energi Perkasa Hengky Hendrarto, Kepala Dinas Inspektorat Morowali Utara Frits Sam Kandori, dan Camat Mori Atas Balirante, serta Tokoh Mori di Jakarta, Christian Parinsi.

Dia menambahkan, pemerintah daerah sebelumnya sudah berencana menganggarkan dana sebesar Rp 14 miliar untuk menaikkan kemampuan jaringan transmisi. Namun, bantuan anggaran dari Pemda ini tidak bisa dilanjutkan. Sebab, penggunaan APBD untuk membiayai peningkatan kapasitas jaringan tersebut bisa berkembang menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Sebab logikanya APBD itu tidak boleh dipakai untuk membiayai kegiatan usaha korporasi. Kecuali APBN dialokasikan untuk subsidi atau penyertaan modal ke BUMN, lewat mekanisme yang diatur dan diajukan oleh Kementerian BUMN. Jadi, tidak bisa APBD di bypass ke kegiatan operasional bisnis PLN dibawah. Ini bahaya, bisa ada yang masuk penjara nanti. Ini ada Kepala Dinas Inspektorat Morut juga sudah sampaikan begitu,” ujar Rizal.

Maka, Rizal merekomendasikan agar siapapun Bupati terpilih nanti tidak menempuh kebijakan ini. “Bukan menyelesaikan masalah, malah masalahnya bisa panjang,” ujar dia.

Sebab itu, setibanya di Jakarta, Rizal berjanji akan akan membantu mencari jalan keluar akan masalah jaringan ini. Sebab, kehadiran PLTM Tomata tak hanya akan menerangi wilayah Morut, melainkan juga akan memberikan optimisme pada investasi di wilayah ini.

“Ini kan kampung halaman saya. Banyak yang inbox dan telepon, listrik wainto mati-mati terus bale. Kita akan cek kemampuan anggaran di PLN seperti apa,” ujar Rizal, kelahiran Tomata, Mori Atas, 46 tahun lalu ini. 

Tak ketinggalan, Rizal juga mengungkapkan bahwa harga pembelian energi listrik dari PLTM sangat murah yaitu Rp 1.000 per kWh dibandingkan dengan harga Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mencapai Rp 3.000 per kwh. "Kami harap harganya yang affordable terjangkau bagi masyarakat," tutup dia.

Rizal mengatakan, beroperasinya PLTM Tomata sangat penting untuk mendorong realisasi investasi di Sulawesi Tengah mengingat investasi di Morut kini berada diposisi kedua setelah Kabupaten Morowali. Realisasi investasi 2019 Morowali mencapai Rp25,862 triliun disusul Morowali Utara sebesar Rp2,126 triliun dan Poso sebesar Rp 1,771 triliun. “Dalam lima sampai 10 tahun ke depan, investasi di Morut akan melonjak sampai ratusan triliun rupiah,” ujar  dia.

 

Related Articles

0 Komentar

Berikan komentar anda

Back to top button