Kabinet Baru Harus Prioritaskan Ketahanan Energi

Author : Franki Dibuat : Jul 17, 2019

Kabinet Baru Harus Prioritaskan Ketahanan Energi
Foto: R Akmal/Listrik Indonesia
Listrik Indonesia | Energi listrik sebagai dasar kebutuhan masyarakat, diyakini masih akan menjadi prioritas ketika Kabinet Baru nanti terbentuk. Hal tersebut berlandaskan keyakinan bahwa energi merupakan salah satu aspek paling dasar dari ketahanan nasional. Tanpa energi, Indonesia tidak akan bisa membangun.

Listrik Indonesia | Seiring mendinginnya suhu politik Tanah Air, diyakini pemerintahan baru ke depan akan tetap concern soal ketahanan energi. Itulah yang diyakini pengamat energi, Farida Zed. Menurut dia, energi merupakan kebutuhan dasar yang harus disediakan oleh negara.

“Saya yakin, siapa pun pemimpin kita tetap akan berupaya memperkuat Ketahan Energi. Energi ini menyangkut aspek paling dasar dari ketahanan nasional. Kalau kita masih melihat energi sebegai pekerjaan sampingan, bagaimana mungkin kita mengatakan bisa mencapai target GDP (pertumbuhan ekonomi nasional) sekian persen. Apapun yang mau kita kerjakan energi itu dibutuhkan. Dalam RIPIN (Rencana Induk Pembangunan Industri), jelas pertumbuhan sektor industri itu ditargetkan Kemenperin, dan untuk mencapainya energi harus ada. Jadi pemerintah yang akan datang harus memikirkan soal ketahanan energi,” ungkap Farida yang sempat menjadi salah satu calon anggota DEN 2019.

Di sisi lain, menurut Farida, kebutuhan energi yang terus meningkat harus diimbangi dengan upaya melakukan transisi dari pemakaian energi fosil ke energi baru dan terbarukan. Pemerintah harus berpikir bagaimana energi baru yang dimiliki Indonesia sesuai amanat Kebijakan Energi Nasional (KEN), itu dapat mendampingi energi fosil yang ada. Dan hal itu sudah dituangkan RUEN (Rencana Umum Energi Nasional).

Fakta menujukkan bahwa terjadi penurunan dari sumber-sumber energi fosil yang ada di Indonesia, di luar batu bara. Sedangkan pemakaian batu bara sebagai sumber energi, memiliki tantangan lingkungan. Sementara, penggunaan minyak bumi, sekarang ini sebagian sudah diimpor dan kalau diteruskan bisa menghabiskan cadangan devisa.

Farida yang pernah menjabat sebagai Direktur Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, menyarankan agar pemerintah untuk segera melakukan transisi dari energi fosil ke energi baru.

“Kalau kita tetap bertahan dengan energi fosil, terutama minyak bumi, separuhnya sudah kita impor, devisa kita akan cepat habis kalau tidak segera transisi. Harus kita transfer dengan energi lainnya yang kita miliki, yaitu energi baru. Target (EBT) 23% (sampai 2025) adalah target alokasi energi baru. Sedangkan batu bara, sudah ada target sendiri. Tapi kalau yang 23% tidak bisa dicapai, harus ada dari energi fosil lain yang harus bisa menggantikan peran tersebut,” tandas Farida. (AB)

Tags : Kolom Opini


0 Komentar

Berikan komentar anda

Top